Profile

aditosan

Author:aditosan

Latest comments
Monthly archive
Search form
Penghitung FC2

[Review Indonesia][Ulasan Game] An Octave Higher [Tanpa Bocoran]





city.jpg



Bermain atau membaca An Octave Higher itu seperti membaca esai atau makalah atau semacamnya. Aku beli game ini setahun setelah rilis, dan baru niat namatin 7 bulan setelah pertama kali beli. Nunggu setahun karena menantikan obral dari Steam dan akhirnya baru namatin 7 bulan kemudian karena suntuk dengan kuliah-kuliah (di dalam game karena karakternya betul-betul lagi kuliah!) di permulaan cerita. Dan akhirnya kesan setelah namatin gamenya? Untunglah aku beli gamenya waktu lagi diskonan.

Nggak. Game-nya sama sekali nggak jelek. Mekanisme dan UI-nya tergolong biasa lah, khas-khas game VN, ilustrasi dan gambar-gambar background ataupun karakter juga baik-baik aja. Alur ceritanya juga oke. Musiknya pakai musik-musik klasik karya penggubah jaman dulu. Ya pokoknya sama sekali nggak jelek lah. Cuman. Cuman ya, main An Octave Higher itu kayak berteman dengan teman pintar yang juga seorang aktivis. Pintar dan baik hati, tapi kadang suka kelepasan ngajarin orang.

Nah, jadi di An Octave Higher itu bagian untuk worldbuilding dicurahkan di awal-awal cerita. Dan kayaknya penulisnya mungkin benar-benar pengen nunjukin kalau dia benar-benar udah ngerjain PR secara tuntas buat merancang setting di game ini. Semuanya dijelaskan plek plek secara teknis, mendalam, faktual, dan terperinci dan persis kayak dosen yang ceramah di depan kelas atau karya-karya ilmiah di jurnal sains. Bagus? Bagus sih emang, ...sebagai makalah. Kalau sebagai cerita? Jenis-jenis cerita kayak gini cocoknya buat pembaca yang menganggap apa-apa yang terkesan pintar dan sulit itu keren.

"Ini ceritanya benar-benar cerdas, kompleks! Rumit! Deep! Keren banget karena aku nggak ngerti ini tentang apa!"

Kira-kira pembaca yang kayak gitu lah.

Sebenarnya aku nggak masalah dengan penggunaan eksposisi di cerita-cerita sci-fi, fantasi atau sejenisnya, asalkan penulisnya lihai menyusun pemaparannya. Yang susah itu kalau eksposisinya sudah berubah menjadi expospeak dan infodumping tingkat tinggi kayak An Octave Higher ini. Nah loh kok tulisanku jadi teknis gini? Ya kira-kira seperti itulah bagian pertama cerita game ini.

Di bagian awal, dua karakter utamanya, Franz dan Aretha masing-masing berfungsi jadi karakter eksposisi yang tugasnya saling melimpahkan ilmu pengetahuan mereka ke satu sama lain. Tujuannya agar pembaca paham sepaham-pahamnya sistem magic dan dunia yang dibangun oleh si penulis. Caranya dengan Franz bertanya pada Aretha, lalu Aretha bakalan menjelaskan panjang lebar. Terus gantian Aretha bertanya pada Franz, lalu Franz bakalan menjelaskan dengan panjang lebar. Kalau kebetulan Aretha lagi tidak ada? Franz bakal mencurahkan ilmu pengetahuannya dengan ceramah di depan kelas pada adik-adik tingkat mahasiswanya di Conservatoire, universitas di dunia An Octave Higher ini. Lah, kalau nggak ada adik tingkat? Tenang aja, Franz bakal dengan senang hati membagi kecerdasannya pada Elise, gadis polos nan lugu yang juga karakter utama. Dan si Elise ini juga dengan murah hatinya akan menjelaskan mekanisme pemanufakturan pabrik pada dirinya sendiri! Padahal dia sendiri sudah lama kerja di pabrik itu.

Soal dialog dan karakterisasi, penulisnya terilhami dari perwatakan klise anime an dan gaya bicara khas lelucon-lelucon orang Indonesia. Penggabungan keduanya berhasil membuatku gilo, mengernyitkan kening, dan memegang jidat. Sebenarnya oke-oke aja, buat yang tahan. Kalau aku sih cuma bisa menghela napas berkali-kali sepanjang cerita.

Dan sebagian besar alur cerita di bagian pertama An Octave Higher berkisar pada mereka, saling bereksposisi, saling menguliahi. Belum lagi kenyataan kalau dari enam ending yang ada, empat ending di antaranya mengakhiri cerita tepat setelah bagian pertama usai. Jadi udah ceritanya singkat, 75% dipakai buat mempelajari dunia Overture (Nama latar negara di cerita). ITU AJA masih mendingan dibanding dua ending terakhir yang endingnya setelah bagian kedua cerita.

Dua ending terakhir? Nah, di dua ending terakhir itu ceritanya dilanjutkan ke bagian kedua yang jadi sajian utama An Octave Higher. Mendadak nuansa cerita yang sebelumnya agak ceria terjun bebas jadi gelap dan suram seiringan juga dengan terjun bebasnya mutu penceritaan. Kalau di cerita bagian pertama sebelumnya banyak bereksposisi tentang soal-soal teknis seperti teori ilmiah dan magic science, di bagian dua pemaparan lebih berpusat pada filosofi, kemasyarakatan, teori ekonomi, politik, kapitalisme, marxisme, meskipun tarafnya tidak separah di bagian pertama.

Kenapa aku bilang mutu penceritaan jadi terjun bebas? Karena pemicu yang menyebabkan terjadinya bagian kedua ini seolah-olah terlalu dipaksakan, mendadak muncul dan cenderung agak mengabaikan karakterisasi yang sudah dibangun sebelumnya. Bukan hanya itu, Libertad (Nama kelompok revolusioner di Overture) kurang berfungsi sebagai alat cerita yang baik dan hanya digunakan untuk memajukan jalan cerita, pertanyaan dan topik-topik menarik di bagian cerita sebelumnya jadi kayak kurang terurus dan cerita terkesan kehilangan arah walaupun sebenarnya alur cerita di bagian kedua itu sendirinya sebenarnya sangat menarik.

Yang paling ku sangat kecewa justru pada dua ending terakhir tersebut, yang paling buruk justru ending yang digadang-gadang sebagai True Ending.
Kesalahan-kesalahan yang menurutku dilakukan di True Ending ini yaitu contohnya seperti berusaha membuat pembaca bersimpati pada karakter yang sebelumnya kita benci, berusaha membuat karakter yang sebelumnya simpatik menjadi antagonis, dialog karakter-karakter menjadi naif dan menyebalkan, adegan-adegan yang terlihat percuma (Jurus pamungkas musuh terakhir). Jadinya True Ending ini seolah-olah ada sebagai sarana penyampai pesan si penulis sehingga akhirnya alur cerita di True Ending harus dipaksakan agar sesuai dengan pesan akhir yang ingin diutarakannya. Dengan ending yang seperti ini ditambah lagi dengan worldbuilding yang penuh dengan infodumping, True Ending membuat An Octave Higher menjadi berkesan seperti visual novel yang berusaha untuk mengajari dan menggurui pembacanya mulai dari awal sampai akhir cerita.

Akhir kata, sekali lagi kutegaskan, An Octave Higher sama sekali bukan visual novel yang jelek. Laju ceritanya diatur dengan baik, karakter-karakternya cukup menarik, penggambarannya hidup dan menarik (terutama saat revolusi), sistem serta dunia yang dibangun juga sangat masuk akal dan dunia yang dirancang juga terlihat sudah berdasarkan riset dan ilmu yang mendalam. Ceritanya punya potensi yang bagus sekali dan karena itu aku jadi terpancing untuk bikin fanfiction dari game ini (kalau ada waktu dan niat).

Tapi kalau diibaratkan dengan makanan, An Octave Higher itu kayak makanan bergizi tapi pahit yang sebagian orang bilang rasanya enak dan sebagiannya lagi bilang nggak enak. Jadi apakah aku menyarankan beli game ini? Belilah kalau lagi diskon. Dan kalau kalian jenis orang yang terangsang senang dicambuk dengan eksposisi-eksposisi dan istilah-istilah "tingkat tinggi" ya kurekomendasikan game ini untuk kalian.

Kalau setelah ini kalian juga ingin bermain story-driven game berbasis teks yang bernuansa steampunk maka aku sangat menyarankan game 80 Days dan A Study In Steampunk.

tag : review ulasan game vn reviewgame

Posting komen

Hanya dapat dilihat oleh admin.

Komen menunggu persetujuan.

Komen menunggu persetujuan dari admin.